Skip to main content

Breakpoint Chlorination (BPC) - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Breakpoint Chlorination (BPC)

Sebelum dikonsumsi, biasanya air baku membutuhkan suatu proses pengolahan air. Sistem pengolahan air terdiri dari proses koagulasi-flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi. Air yang telah disaring di unit filtrasi pada prinsipnya sudah memenuhi standar kualitas tetapi untuk keperluan menghindari kontaminasi air oleh mikroorganisme selama penyimpanan dan pendistribusian perlu dilakukan proses desinfeksi. Desinfeksi yang umum digunakan adalah dengan cara klorinasi, walaupun ada beberapa cara lain seperti dengan ozon dan ultra violet (UV) yang jarang digunakan.
Keefektifan desinfektan dalam membunuh mikroorganisme tergantung pada (AWWA, 1997) :
1.   Jenis desinfektan yang digunakan
2.   Konsentrasi residu desinfektan
3.   Waktu dimana air kontak dengan desinfektan
4.   Temperatur air
5.   pH air, yang mempunyai pengaruh dalam mengnon-aktifkan apabila klorin digunakan.

Alat
a.       9 botol kaca (dengan tutup) 250 atau 500 ml; tutup sebaiknya dari dan botol berwarna coklat (sebagai tempat reaksi disinfeksi)
b.      Pipet 100 ml, dan bermacam – macam pipet lain sesuai keperluan
c.       pH meter atau kertas pH;
d.      jam
e.       2 labu takar 1 L (untuk larutan klor dan larutan sampel buatan)
f.       Alat – alat yang diperlukan untuk analisa klor aktif

Bahan
a.       Larutan klor 0,840 mol/l CLO-; dapat berasal dari kaporit, NaOCl atau garam lain. Bila kaporit yang digunakan, larutkan 60 gram Ca(OCl)2 dalam 1 liter air suling (0,120 mol/l).
b.      Larutan sampel buatan yang mengandung amoniak (untuk sebuah praktikum saja): ke dalam labu takar 1 liter, tuangkan kira – kira 0,5 L air leding (dianggap tidak mengandung amoniak), tambahkan 94,38 mg (NH4)2 SO4 / L (kadar amoniak 1,4 mmol NH3/L atau 23,8 mg/l, kemudian isi labu takar sampai 1 liter dengan air leding. Sebenarnya kadar NH3tersebut agak tinggi dan mencerminkan badan air yang sangat tercemar. Namun demikian grafik klorinasi menjadi lebih jelas.
  
 Cara kerja
Sampel bias terdiri dari air sungai, air tanah, air leding dan sebagainya yang komposisinya tidak diketahui. Untuk sebuah praktikum, sampel air segar dapat diganti dengan sampel buatan dengan komposisinya telah tertentu dengan butir A.2.2.b
1.                  tuangkan 100 ml sampel masing-masing ke dalam 9 botol kaca
2.                  taksir jumlah klor yang harus dibubuhkan X (sebagai ClO ) untuk capai breakpoint; dianggap X tergantung dari kadar NH3 saja : 23,8 mg NH3 atau 1,4 mmol NH3 memerlukan 1,,5 x 1,4 mmol ClO pada pH 7 (reaksi 4 dan 7), yaitu 2,5 ml dari sebuah larutan 0,42 mol Ca (OCl)2/l atau 0,84 mol OCl/l.
3.                  tambahkan jumlah klor tersebut ke dalam botol ke-1 sampai ke-7, masing-masing sebesar 1/5 X,2/5 X,3/5 X, 4/5 X, 5/5 X, 6/5 X, 7/5 X, 8/5 X dan 10/5 X (X adalah taksiran jumlah klor di atas) kemudian tutuplah ke-7 botol tersebut setelah dikocok.
4.                  diamkan selama 30 menit dan kemudian tentukan konsentrasi “klor aktif” dari setiap botol (lihat bagian B atau bagian C Bab ini mengenai analisa klor aktif).
5.                  gambarkan grafik breakpoint dengan klor aktif (MgCl2/l) vs. mol ClO yang telah dibubuhkan. Dari percobaan dengan sampel buatan juga dapat digambarkan suatu grafik breakpoint klor aktif (MgCl2/l) vs. mol ClO/mol NH3 : absis adalah mol ClO dari Ca(ClO2/mol NH3 dan ordinat adalah klor aktif MgCl2/l.
6.                  dalam botol ke-8 dan ke-9 yang masing-masing telah berisi 100ml sampel, tambahkan klor sebanyak yang dibutuhkan untuk mencapai breakpoint (titik retak) sesuai grafik tadi. Diamkan botol ke-8 dengan waktu kontak 5 menit dan tentukan konsentrasi “klor aktif”. Untuk botol ke-9 waktu kontak  adalah 2 jam sebelum konsentrasi “klor aktif”. Evaluasikan sekarang pengaruh waktu detensi 5,30 menit dan 2 jam terhadap breakpoint.

7.                  bandingkan hasil percobaan laboratorium yang telah dilaksanakan dengan perhitungan secara teoritis.

Comments

Popular posts from this blog

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat Pemeriksaan nitrat merupakan periksaan yang agak sulit disebabkan karena tata kerja relatif kompleks, karena adanya unsur pengganggu, dan karena terbatasnya batas kadar dari berbagai teknik. Sampel yang telah diuji berarti batas konsentrasinya telah diketahui yang mana berarti pula metode pemeriksaannya sudah tertentu. Pengujian tersebut tidak berpengaruh pada hasil yang akan didapat. Alat ·         Spektrofotometer ·         Tabung kimia ·         Pipet isi 5 ml dan 10 ml ·         Pipet ukur 5 ml Bahan ·         Larutan sangga NH4OAc 1 M, pH 4,8. Timbang 77,00 gram serbuk NH4-asetat p.a. ke dalam labu ukur 1 l. Tambahkan air hingga sekitar 900 ml, tambahkan asam asetat glasial p.a. dan kocok hingga pH 4,8. Impitkan dengan air beb...

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA - KLASIFIKASI BAHAYA & APD (ALAT PELINDUNG DIRI) - K3 - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA KLASIFIKASI BAHAYA n   KLASIFIKASI NFPA (NATIONAL FIRE PROTECTION ASSOCIATION ) KESEHATAN (NFPA HEALTH HAZARDS) MUDAH TERBAKAR (NFPA FLAMMABILITY HAZARDS) REAKTIVITAS (NFPA REACTIVITY HAZARDS) TINGKAT BAHAYA THD KES YANG DILAMBANGKAN DG WARNA BIRU n   4 =  BHAN YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK ATAU YANG DAPAT MENIMBULKAN LUKA FATAL MESKIPUN ADA PERTOLONGAN DG SEGERA n   3 = BHN YANG DAPAT MENIMBULKAN AKIBAT SERIUS PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK, MESKIPUN ADA PERTOLONGAN SEGERA n   2 = BAHAN YANG PADA KETERPAAN INTENSIF ATAU TERUS MENERUS DAPAT MENIMBULKAN LUKA MESKIPUN TIDAK ADA PERTOLONGAN SEGERA. n   1 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API n   0 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API KLASIFIKASI FLAMMABILITY n   4 = BAHAN YANG SEGERA MENGUAP DALAM UDARA NORMAL DAN DAPAT TERBAKAR DENGAN CEPAT n   3 = BAHAN CAIR ATAU PADAT YANG DAPAT...