Skip to main content

Pembuatan Kompos - Persampahan - Tehnik Lingkungan Lingkunganjaya

Pembuatan Kompos
Alat dan Bahan:
v  Alat
  • Komposter berdiameter kurang lebih 40-50 cm
  • golok/ alat pemotong lain
  • sekop
  • sarung tangan
  • alat untuk analisis fisik( termometer dan pH meter)
  • ayakan/penyaring dari kawat
  • plastik kemasan
v  Bahan
  • sampah taman (dedaunan coklat) sebanyak 7 kg
  • sampah hijau (sayuran) sebanyak 3 kg
  • /starter ( serbuk gergaji sebanyak 15 gram dan 2 kg campuran kotoran kambing dengan tanah)
  • air
Cara Kerja
  • sampah taman dipilah terlebih dahulu dan diambil sebanyak 10 kg sampah dedaunan serta sampah hijauan sebanyak 3 kg
  • cacah sampah dengan golok hingga berukuran 1,5 cm x1,5 cm
  • tambahkan serbuk gergaji lalu aduk-aduk hingga tercampur merata
  • masukkan campuran tanah dengan kotoran kambing setinggi kurang lebih 1 cm ke dalam komposter sebagai alas dasar
  • masukkan campuran sampah setinggi 7 cm lalu diperciki air hingga dapat dipastikan cukup lembab
  • tutup dengan campuran tanah dan kotoran kambing
  • masukkan lagi campuran sampah di atasnya, dan lakukan berulang hingga komposter penuh dan berakhir dengan penutupan menggunakan campuran tanah dan kotoran
  • tekan perlahan, jangan terlalu padat
  • tutup komposter dan lakukan pengecekan suhu minimal 3 hari sekali
  • lakukan pula pengukuran pH dan penetapan ratio C/N
  • setelah kompos matang (kurang lebih setelah 5-8 minggu pengomposan), kompos diayak lalu dikemas
  • lakukan analisis biaya produksi dengan pengasumsian life time (masa pakai) alat (tidak termasuk alat untuk analisis kompos)
Pengukuran suhu dan pH
Alat dan bahan
v  Alat
  • ·                                                                               Termometer
  • ·                                                                               pH meter
  • ·                                                                               erlenmeyer
  • ·                                                                               gelas ukur
  • ·                                                                               neraca
  • ·                                                                               mesin pengaduk (shaker)

v  Bahan
  • ·                                                                               sampel kompos
  • ·                                                                               air suling

v  cara kerja
·     Pengukuran suhu:
-ukur suhu kompos dengan cara menancapkan termometer ke dalam tumpukan kompos dalam komposter kemudian biarkan selama lima mebnit lalu tulis hasil pembacaan skala termometer
-lakukan pada 15 titik dan hasilnya dirata-ratakan
·       Pengukuran pH
-timbang 10 g sampel kompos dan masukkan ke dalam erlenmeyer 250 mL
-tambahkan 50 mL air suling lalu kocok dengan menggunakan shaker

-ukur pH dengan menggunakan pH meter

Comments

Popular posts from this blog

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat Pemeriksaan nitrat merupakan periksaan yang agak sulit disebabkan karena tata kerja relatif kompleks, karena adanya unsur pengganggu, dan karena terbatasnya batas kadar dari berbagai teknik. Sampel yang telah diuji berarti batas konsentrasinya telah diketahui yang mana berarti pula metode pemeriksaannya sudah tertentu. Pengujian tersebut tidak berpengaruh pada hasil yang akan didapat. Alat ·         Spektrofotometer ·         Tabung kimia ·         Pipet isi 5 ml dan 10 ml ·         Pipet ukur 5 ml Bahan ·         Larutan sangga NH4OAc 1 M, pH 4,8. Timbang 77,00 gram serbuk NH4-asetat p.a. ke dalam labu ukur 1 l. Tambahkan air hingga sekitar 900 ml, tambahkan asam asetat glasial p.a. dan kocok hingga pH 4,8. Impitkan dengan air beb...

Breakpoint Chlorination (BPC) - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Breakpoint Chlorination (BPC) Sebelum dikonsumsi, biasanya air baku membutuhkan suatu proses pengolahan air. Sistem pengolahan air terdiri dari proses koagulasi-flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi. Air yang telah disaring di unit filtrasi pada prinsipnya sudah memenuhi standar kualitas tetapi untuk keperluan menghindari kontaminasi air oleh mikroorganisme selama penyimpanan dan pendistribusian perlu dilakukan proses desinfeksi. Desinfeksi yang umum digunakan adalah dengan cara klorinasi, walaupun ada beberapa cara lain seperti dengan ozon dan ultra violet (UV) yang jarang digunakan. Keefektifan desinfektan dalam membunuh mikroorganisme tergantung pada (AWWA, 1997) : 1.   Jenis desinfektan yang digunakan 2.   Konsentrasi residu desinfektan 3.   Waktu dimana air kontak dengan desinfektan 4.   Temperatur air 5.   pH air, yang mempunyai pengaruh dalam mengnon-aktifkan apabila klorin digun...

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA - KLASIFIKASI BAHAYA & APD (ALAT PELINDUNG DIRI) - K3 - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA KLASIFIKASI BAHAYA n   KLASIFIKASI NFPA (NATIONAL FIRE PROTECTION ASSOCIATION ) KESEHATAN (NFPA HEALTH HAZARDS) MUDAH TERBAKAR (NFPA FLAMMABILITY HAZARDS) REAKTIVITAS (NFPA REACTIVITY HAZARDS) TINGKAT BAHAYA THD KES YANG DILAMBANGKAN DG WARNA BIRU n   4 =  BHAN YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK ATAU YANG DAPAT MENIMBULKAN LUKA FATAL MESKIPUN ADA PERTOLONGAN DG SEGERA n   3 = BHN YANG DAPAT MENIMBULKAN AKIBAT SERIUS PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK, MESKIPUN ADA PERTOLONGAN SEGERA n   2 = BAHAN YANG PADA KETERPAAN INTENSIF ATAU TERUS MENERUS DAPAT MENIMBULKAN LUKA MESKIPUN TIDAK ADA PERTOLONGAN SEGERA. n   1 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API n   0 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API KLASIFIKASI FLAMMABILITY n   4 = BAHAN YANG SEGERA MENGUAP DALAM UDARA NORMAL DAN DAPAT TERBAKAR DENGAN CEPAT n   3 = BAHAN CAIR ATAU PADAT YANG DAPAT...