Skip to main content

Amonium dengan Metoda Nessler - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Amonium dengan Metoda Nessler

Ammonia adalah bahan kimia dengan formula kimia NH3. Yang mempunyai bentuk segi tiga. Titik leburnya ialah -75 °C dan titik didihnya ialah -33.7 °C. Pada suhu dan tekanan yang tinggi, ammonia adalah gas yang tidak mempunyai warna dan lebih ringan daripada udara. 10% larutan ammonia dalam air mempunyai pH 12.
Ammonia cair terkenal dengan sifat mudah larut. Ia dapat melarutkan logam alkali dengan mudah untuk membentuk larutan yang berwarna dan dapat mengalirkan elektrik dengan baik.
Alat
1 Spektrofotometer Serapan
2 pH
3 Alat penyuling.
4 Pipet ukur 1 dan 2 mL
5 Labu ukur 50 dan 100 mL.
6 Gelas ukur 50 100 mL.
7 Pipet volume 2,5,10 dan 25 mL.
8 Gelas piala 100 mL. 
Bahan
Bahan kimia yang berkualitas p.a dan bahan lain yang digunakan dalam pengujian ini terdiri atas :
1) Larutan induk ammonium 1000 mg/L
2) Larutan Nessler
3) Larutan penyangga borat
4) Larutan natrium hidroksida NaOH, 6N
5) Larutan asam sulfat H2SO4, 1N
6) Larutan asam borat 2 %
7) Kertas lakmus yang mempunyai kisaran pH 0-14

PROSEDUR PERCOBAAN

Persiapan Contoh uji untuk Amonium
1) Sediakan contoh uji yang akan diambil sesuai dengan Metode Pengambilan
2) Ukur 100 mL contoh uji secara duplo dan masukkan ke dalam labu penyuling 500 mL.
3) Tambahkan 8,3 mL larutan penyangga borat.
4) Tepatkan pH menjadi 9,5 dengan penambahan larutan natrium hidroksida menggunakan alat pH meter.
5) Hidupkan alat penyuling dan atur kecepatan penyulingan 6-10 mL/menit.
6) Tampung air sulingan ke dalam labu labu ukur 100 mL yang telah diisi larutan asam borat sebanyak 30 mL atau sampai tidak mengandung amonia yang dapat diketahui dengan kertas lakmus.
7) Encerkan menjadi 100 mL dengan penambahan air suling.
8) Contoh uji siap diuji.

Persiapan Pengujian
1) Pembuatan Larutan baku Amonium , NH4-N
Buat larutan baku amonium dengan tahapan sebagai berikut :
1) Pipet 0, 25, 50, 100, 250 µL larutan induk amonium dan masukkan masing-masing ke dalam labu ukur 50 ml.
2) Tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera sehingga diperoleh kadar amonium –N sebesar 0; 0,5; 1;2,5 dan 5 mg/L NH4-N.


Pembuatan Larutan Nessler
1) Larutkan 100 g HgI2 dan 70 g KI dengan 100 ml air suling di dalam gelas piala 250 mL
2) Tambahkan campuran ini dengan perlahan-lahan ke dalam labu ukur 1000 mL yang berisi larutan 160 g NaOH dalam 500 mL air suling
3) Kocok dan tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera

Comments

Popular posts from this blog

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Nitrat dengan Metoda Brucin Asetat Pemeriksaan nitrat merupakan periksaan yang agak sulit disebabkan karena tata kerja relatif kompleks, karena adanya unsur pengganggu, dan karena terbatasnya batas kadar dari berbagai teknik. Sampel yang telah diuji berarti batas konsentrasinya telah diketahui yang mana berarti pula metode pemeriksaannya sudah tertentu. Pengujian tersebut tidak berpengaruh pada hasil yang akan didapat. Alat ·         Spektrofotometer ·         Tabung kimia ·         Pipet isi 5 ml dan 10 ml ·         Pipet ukur 5 ml Bahan ·         Larutan sangga NH4OAc 1 M, pH 4,8. Timbang 77,00 gram serbuk NH4-asetat p.a. ke dalam labu ukur 1 l. Tambahkan air hingga sekitar 900 ml, tambahkan asam asetat glasial p.a. dan kocok hingga pH 4,8. Impitkan dengan air beb...

Breakpoint Chlorination (BPC) - Laboratorium Lingkungan - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

Breakpoint Chlorination (BPC) Sebelum dikonsumsi, biasanya air baku membutuhkan suatu proses pengolahan air. Sistem pengolahan air terdiri dari proses koagulasi-flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi. Air yang telah disaring di unit filtrasi pada prinsipnya sudah memenuhi standar kualitas tetapi untuk keperluan menghindari kontaminasi air oleh mikroorganisme selama penyimpanan dan pendistribusian perlu dilakukan proses desinfeksi. Desinfeksi yang umum digunakan adalah dengan cara klorinasi, walaupun ada beberapa cara lain seperti dengan ozon dan ultra violet (UV) yang jarang digunakan. Keefektifan desinfektan dalam membunuh mikroorganisme tergantung pada (AWWA, 1997) : 1.   Jenis desinfektan yang digunakan 2.   Konsentrasi residu desinfektan 3.   Waktu dimana air kontak dengan desinfektan 4.   Temperatur air 5.   pH air, yang mempunyai pengaruh dalam mengnon-aktifkan apabila klorin digun...

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA - KLASIFIKASI BAHAYA & APD (ALAT PELINDUNG DIRI) - K3 - Tehnik Lingkungan - lingkunganjaya

K3 BAHAN-BAHAN KIMIA KLASIFIKASI BAHAYA n   KLASIFIKASI NFPA (NATIONAL FIRE PROTECTION ASSOCIATION ) KESEHATAN (NFPA HEALTH HAZARDS) MUDAH TERBAKAR (NFPA FLAMMABILITY HAZARDS) REAKTIVITAS (NFPA REACTIVITY HAZARDS) TINGKAT BAHAYA THD KES YANG DILAMBANGKAN DG WARNA BIRU n   4 =  BHAN YANG DAPAT MENYEBABKAN KEMATIAN PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK ATAU YANG DAPAT MENIMBULKAN LUKA FATAL MESKIPUN ADA PERTOLONGAN DG SEGERA n   3 = BHN YANG DAPAT MENIMBULKAN AKIBAT SERIUS PADA KETERPAAN JANGKA PENDEK, MESKIPUN ADA PERTOLONGAN SEGERA n   2 = BAHAN YANG PADA KETERPAAN INTENSIF ATAU TERUS MENERUS DAPAT MENIMBULKAN LUKA MESKIPUN TIDAK ADA PERTOLONGAN SEGERA. n   1 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API n   0 = BAHAN YANG TIDAK BERBAHAYA MESKIPUN KENA API KLASIFIKASI FLAMMABILITY n   4 = BAHAN YANG SEGERA MENGUAP DALAM UDARA NORMAL DAN DAPAT TERBAKAR DENGAN CEPAT n   3 = BAHAN CAIR ATAU PADAT YANG DAPAT...